Sabtu, 08 September 2012

KONSEP PENDIDIKAN ISLAM

Unknown

1. Konsep Pendidikan Islam 
Konsep dasar pendidikan Islam bersumber dari al-Qur'an dan al-Hadits. Beberapa istilah dasar yang memiliki arti dan makna pendidikan dari kedua sumber di atas, antara lain, adalah tarbiyah, ta'lim, ta'dib dan riyadhah (Muhaimin, 1993 : 127).
Adapun istilah “Tarbiyah” diambil dari kata “rabba” (رب)  dan “rabbaa” (ربا )  yang kemudian diartikan oleh Isma'il sebagai memberi makan, memelihara dan mengasuh yakni diambil dari kata "ghadza” (غذا ) atau “ghadzaw” (غذوا ) yang berarti mengasuh, menanggung, memberi makan, me-ngembangkan, memelihara, membuat, menjadikan bertambah dalam pertum-buhan, membesarkan, memproduksi hasil-hasil yang sudah matang dan menjinakkan. Penerapannya dalam bahasa Arab tidak terbatas hanya pada manusia saja, namun juga pada tanaman dan hewan (al-Attas, 1994 : 66).
Istilah tarbiyah pada dasarnya juga menyangkut gagasan-gagasan pemilikan, seperti pemilikan keturunan oleh orang tuanya. Dan biasanya orang tua melaksanakan tarbiyah atas objek-objek (anak) yang dimilikinya. Pemilikan yang dimaksud di sini hanyalah jenis "hubungan" mengingat pemilikan yang sebenarnya adalah pada Allah Swt. Adapun tujuan tarbiyah secara normal bersifat fisik. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat al-Isra' ayat 24 :
وَقُلْ رَّبِّ اْرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا (الاسرأ : 24)
Artinya : "Dan ucapkanlah : "Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua mendidik aku waktu kecil” (Q.S. al-Isra' : 24)
Istilah "Rabbayani" di atas mempunyai arti rahmah, yakni ampunan atau kasih sayang, pakaian dan tempat berteduh. Seperti halnya pemeliharaan yang diberikan orang tua kepada anak-anak. Dengan demikian tarbiyah sama dengan rahmah atau ampunan. Karena itulah tarbiyah membawa sesuatu kepada keadaan kelengkapan secara berangsur, sebagai tindakan rahmah bukanlah melibatkan pengetahuan (Ibid : 67). Dari sini tampaklah bahwa tarbiyah berarti membesarkan, tanpa mencakup pengetahuan dalam proses, sekiranya makna yang berhubungan dengan pengetahuan bila disusupkan pada konsep "rabba", maka makna tesebut hanya mengacu pada pemelikikan pengetahuan.
Sedangkan Abd. Al-Rahman al-Bani mengambil konsep pendidikan al-Tarbiyah dari kata "al-Rabb" yang makna lengkapnya adalah menumbuhkan perilaku demi perilaku secara bertahap sehingga mencapai kesempurnaan. Lebih jauh lagi ia mengatakan bahwa pendidikan Islam itu mencakup tiga unsur, yaitu menjaga dan memelihara anak, mengembangkan dan mengarahkan bakat dan potensi anak sesuai dengan kekhasan masing-masing, serta mengarahkan bakat dan potensi anak agar mencapai kebaikan dan kesempurnaan (al-Nawawi, 1995 : 20).
Adapun istilah “Ta'lim” berasal dari kata (علّم)  yang berarti mengajar, (pengajaran) yakni mentransfer ilmu pengetahuan yang hanya merupakan sebagian saja dari unsur yang hendak ditransformasikan dalam pendidikan Islam (Al-Attas, 1994 : 51)
Sedangkan istilah “Ta'dib” berasal dari kata "addaba" yang berarti disiplin tubuh, jiwa dan ruh. Disiplin yang menegaskan pengenalan dan pengetahuan tempat yang tepat dalam hubungannya dengan kemampuan dan potensi jasmani dan rohani.
Pengenalan dan pengetahuan akan menjadi kenyataan bila ilmu ditata secara berurutan sesuai dengan berbagai tingkat derajat, dalam definisi inipun juga mengandung ilmu dan amal. Adapun pengertian ta'dib menurut al-Naquib adalah konsep dari pendidikan Islam yang tepat, karena ta'dib merupakan proses pemindahan ilmu pengetahuan dan nilai kepada subjek didik yang mempunyai pengetahuan yang dapat dilakukan sebagai perilaku sehari-hari, berdasarkan nilai-nilai yang diberikan, baik yang berhubungan dengan nilai-nilai ilahiyah maupun insaniyah. Sedangkan istilah dari “al-Riyadlah” hanya digunakan oleh al-Ghazali yang mana dia lebih menekankan pada aspek penanaman nilai melalui latihan dan pembiasaan pada anak didik. Sehingga konsep pendidikan Islam lebih menekankan pada segi amaliyahnya dibandingkan dengan penanaman pengetahuan, lebih-lebih konsep al-Riyadlah ini hanya diperuntukkan pada fase anak-anak karena menurut pendapatnya periode yang terpenting dalam pendidikan ialah masa anak-anak karena yang menjadi perhatian ialah sifat pembawaan adalah bisa menerima yang baik dan yang buruk, sekaligus ibu bapaknya memiliki salah satu dari dua hal tersebut, sebagaimana sabda Nabi :
مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ اِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَاِنهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ (صحيح مسلم)
Artinya : "Tidaklah anak yang dilahirkan itu kecuali telah membawa fitroh (kecendrungan untuk percaya kepada Allah), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani ataupun Yahudi". (Shahih Muslim : tt : Juz II : 458).
Dari beberapa pengertian istilah di atas, maka pengertian pendidikan Islam menurut Muhaimin adalah sebagai proses transformasi pengetahuan dan nilai-nilai diri anak didik melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya buna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya (Muhaimin dan Mujib, 1993 : 136).
Pengertian ini mencakup adanya lima prinsip pokok pendidikan Islam, yaitu :
1. Proses transformasi yaitu upaya yang dilakukan secara bertahap dengan upaya pemindahan, penanaman, pengarahan, pengajaran dan hubungan secara terencana dengan menggunakan pola tertentu.
2. Isi pendidikan yang berupa ilmu pengetahuan dan nilai-nilai, yang tentunya diarahkan pada pemberian dan penghayatan serta pengala-man ilmu pengetahuan.
3. Peserta didik, yaitu pendidikan itu diberikan pada anak didik yang mempunyai potensi rohani.
4. Cara mendidik melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya.
5. Tujuan pendidikan guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup jasmani dan struktur kehidupan dunia akhirat.
Sedangkan pendidikan Islam menurut Marimba adalah bimbingan jasmani-rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju pada terbentuk-nya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam (Marimba, 1989 : 23).
Kepribadian utama di sini dimaksudkan sebagai kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang di dalamnya berkarakter nilai-nilai Islam. Nilai Islam akan muncul dalam setiap saat. Sewaktu mereka berpikir, bersikap dan berperilaku. Melakukan bimbingan merarti membutuhkan kesadaran bagi pembimbing dan dilakukan secara sadar pula. Dalam arti disertai niat dengan cara-cara  tertentu yang harus dimiliki pengetahuan tentang perkembangan Islam serta memiliki jiwa pribadi muslim yang sejati.
Adapun pengertian pendidikan Islam menurut Syahminan Zaini, yaitu suatu usaha pengembangan fitrah menusia dengan ajaran Islam, agar terwujud kehiupan yang makmur dan bahagia (Zaini, 1986 : 4). Fitrah di sini dimaksud-kan sebagai potensi dasar manusia yang dibawa sejak lahir, diantaranya adalah agama, sosial, susila, kemajuan, keadilan dan sebagainya. Potensi tersebut tidak bisa berkembang apabila manusia tidak memfungsikan untuk kehidupannya. Dan apabila potensi-potensi tersebut dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia secara sempurna dan dapat membawa kemakmuran dan kebahagiaan, bilamana dikembangkan secara sempurna dengan dilandasi nilai-nilai agama Islam (Bawani, 1993 : 32).

2. Hakekat Pendidikan Islam
Dengan berawalnya beberapa pengertian istilah pendidikan di atas, dapat memberikan kesan antara satu dengan lainnya. Tidak bisa dipisahkan-pisahkan, akan tetapi sangat berkait. Dari beberapa pengertian dan istilahnya merupakan satu rumusan pendidikan yang sesuai dengan misi diciptakannya manusia sebagai kholifah di bumi ini, dimana misi tersebut dapat terwujud melalui pendidikan yang merupakan keutuhan dari beberapa rumusan istilah dan pengertian di atas.
Dari beberapa pengertian tentang pendidikan di Islam. Bahwa pendidikan Islam adalah suatu proses transformasi ilmu pengetahuan dan nilai pada peserta didik melalui pengajaran, bimbingan jasmani-rohani, dengan dilandasi ajaran-ajaran agama Islam, sehingga terbentuk kepribadian muslim, yakni pribadi yang memiliki keseimbangan dan keselarasan hidup, baik di bidang material maupun spiritual, jasmani, rohani yang mempersembahkan tenaga pikiran dan perbuatan untuk Allah semata.
Oleh karena itu yang dinamakan hakekat dari pendidikan Islam adalah usaha sadar yang dilakukan seseorang untuk mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah anak didik dengan melalui ajaran agam Islam (H.M. Arifin, 1993 : 32).
Hakekat dari pendidikan Islam yang dipahami adalah dari sumber pangkalnya yakni dari proses penciptaan alam dan hubungannya dengan pencipta menusia serta kehidupannya di muka bumi ini (Tim IAIN Malang, 1996 : 59). Untuk itu pemahaman pengetahuan perkembangan anak didik sebagai proses penyesuaian dengan fase-fase perkembangannya, dan tentunya juga harus mengetahui situasi zaman. Hal ini merupakan tugas pendidik yaitu harus menghasilkan manusia yang berakhlak mulia dan mengabdi pada-Nya (Allah).

3. Dasar-Dasar Pendidikan Islam 
Dasar yang menjadi acuan dalam pendidikan Islam harus merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang dapat menghantarkan kepada aktivitas yang dicita-citakan, nilai yang terkandung harus mencerminkan nilai yang dapat diajarkan untuk keseluruhan aspek kehidupan manusia serta merupakan standar nilai yang dapat mengevaluasi kegiatan yang dikerjakan. Sebab selain adanya dasar juga berfungsi sebagai sumber segala peraturan akan diciptakan sebagai pegangan langkah pelaksanaan dan sebagai jalur langkah yang menentukan arah usaha tertentu (Zuhairini dkk, 1995 : 153).
Sedangkan pendidikan Islam merupakan kebutuhan mutlak, untuk dapat melaksanakan dasar pendidikan Islam yang harus bisa disesuaikan dengan dasar ajaran Islam, yaitu al-Qur'an dan al-Hadits (Nahlawi, 1993 : 41). Dari kedua dasar ini oleh para ahli hukum Islam, dijabarkan lagi diantaranya al-'Urf, Ijma', Qiyas dan sebagainya. Sebagaimana yang dikatakan Nabi :
تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ مَا اِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوْا اَبَدًا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ (رواه المالك)
Artinya : "Sungguh telah saya tinggalkan untukmu dua hal, tidak sekali-kali kamu sesat selama kamu berpegang kepadanya, yakni Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya”. (H.R. Malik)

Adapun al-Hadits didasarkan pada  pendidikan juga, dan dipahami sebagai perilaku kehidupan yang baik dan buruk, yaitu perkataan, perbuatan dan tingkah laku yang dicontohkan oleh Nabi. Dan Sunnah-pun juga berfungsi sebagai penjelas tentang berbagai hal permasalahan yang ada dalam al-Qur'an sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan situasi dan kondisi kehidupan nyata (Tim IAIN Malang, 1996 : 58)
Jadi dasar yang paling utama adalah al-Qur'an dan al-Hadits apabila dari kedua dasar ini belum bisa menemukan apa yang dicari, maka diperboleh-kan menggunakan dasar yang lainnya, akan tetapi harus kembali pada kedua dasar di atas.

4. Komponen-Komponen Pendidikan Islam
Kajian mengenai komponen pendidikan Islam merupakan satu kesatuan dari komponen pendidikan yang masin-masing berdiri sendiri tetapi saling berkaitan, sehingga membentuk suatu kebulatan yang utuh dalam pencapaian tujuan yang diinginkan. Tentunya komponen-komponen dalam pendidikan Islam ini tidak dapat dilepaskan dengan nilai-nilai atau norma-norma yang melandasi pendidikan Islam, sehingga terbentuk suatu sistem pendidikan Islam yang  Islami. Komponen-komponen tersebut diantaranya adalah :

a. Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh suatu aktivitas manusia, sebab aktivitas manusia pasti mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Sebab aktivitas yang tidak mempunyai tujuan adalah pekerjaan yang sia-sia.
مِنْ حُسْنِ اِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَ يَعْنِيْهِ (رواه الترمذي)
Artinya : "Dari tanda kebagusan keislaman seseorang adalah ia akan meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya." (H.R. Turmudzi).
Maka dari sini para ahli banyak berpendapat mengenai tujuan pendidikan Islam, diantaranya Habib Toha mengatakan pendidikan Islam bertujuan  untuk mencapai tujuan hidup muslim, agar mereka tumbuh dan berkembang menjadi makhluk Allah yang berakhlak mulia dan beribadah kepada-Nya (Habib Toha, 1996 : 100).
Makhluk yang berakhlak mulia yang dimaksud adalah wujud dari proses pendidikan Islam dengan mengupayakan pengembangan potensi-potensi kejiwaan secara sempurna dengan melakukan pendidikan yang menyeluruh terhadap wujud manusia baik potensi jasmani maupun rohani, serta keterampialn atas dasar fitrah yang telah diberikan Allah kepadanya, agar manusia mampu mengatasi permasalahan hidup dengan landasan akhlak yang baik karena Allah menciptakan alam semesta ini dengan tujuan yang jelas, yaitu untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi ini. Agar manusia bisa memahami bahwa tujuan hidup semata-mata untuk mengabdi kepada-Nya. Akan tetapi beribadah tidak hanya terbatas pada berbagai cara peribadatan yang ditentukan, melainkan mempunyai banyak makna atau meluas, meliputi seluruh aktivitas di bidang kehidupan yang mana semuanya ditujukan semata-mata karena Allah, dengan menjalankan apa yang diperintah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.
Sedangkan tujuan pendidikan Islam yang dilandaskan pada al-Qur'an menurut Abdurrahman Saleh Abdullah dapat dilihat dari beberapa segi, diantaranya :
1) Tujuan Fisik
Membantu mencapai kemampuan yang menjadikan anak yang lebih kuat dan membantunya sikap positif terhadap tubuhnya.
2) Tujuan Mental
Mengembangkan inteligensi yang akan mengantar anak kepada pencapai-an kebenaran yang ultimate.
3) Tujuan Spiritual
Meningkatkan inteligensi pengabdian kepada Allah SWT dan mengimplementasikan moralitas qur'ani sebagaimana cermin dan teladan Rasulullah SAW.
4) Tujuan Sosial
Membiasakan kemampuan sosial tertentu yang berhubungan dengan tugas kekhilafahan (Abdullah, 1991).
Sedangkan tujuan pendidikan menurut Zakiyah Darajat adalah mewujudkan kepribadian seseorang menjadi insan kamil dengan pola taqwa, insan yang dimaksud adalah manusia yang utuh rohani dan jasmani, yang dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya kepada Allah SWT (darajat, 1992 : 33).
Adapun pendidikan Islam mempunyai ciri-ciri diantaranya adalah : 
1. Mengarahkan menusia agar berakhlak yang mulia, sehingga ia tidak menyalahkan fungsi kekhilafahannya.
2. Mengarahkan menusia agar pelaksanaan tugas kekhilafahannya di muka bumi ini dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada-Nya.
3. Mengarahkan menusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Apabila manusia yang sudah mempunyai ciri-ciri tersebut di atas secara umum adalah manusia yang baik, yaitu manusia yang beribadah kepada Allah dalam rangka melaksanakan fungsi kekhilafahannya di muka bumi ini (Nata, 1997 : 54).
Dari beberapa penjelasan di atas, maka tujuan akhir pendidikan Islam adalah membentuk pribadi yang beribadah kepada Allah SWT. Sifat tujuan ini tetap berlaku di sepanjang tampat, waktu dan keadaan, sehingga tujuan ini berlaku di seluruh dunia yang meyakini ajaran-ajaran Islam.
Dari uraian di atas, penulis berkesimpulan bahwa tujuan pendidikan Islam merupakan tujuan akhir yang berkaitan dengan hakekat penciptaan manusia di muka bumi ini, yaitu membentuk insan kamil yang mempunyai ketajaman berpikir, kekuatan iman dan keterampilan untuk dilakukan atau diterapkan dalam tingkah laku berdasarkan nilai-nilai agama Islam, menegaskan fungsi sebagai hamba Allah sebagai khalifah, bahkan tujuan pendidikan Islam mencapai tujuan akhir pendidikan yaitu harus melalui fitrah dari setiap diri manusia yang meliputi iman dan taqwa, ilmu pengetahuan, akhlak (moral) dan pengalaman. Maka dalam strategi pendidikan Islam keempat potensi di atas menjadi titik pusat dari lingkaran proses pendidikan Islam supaya mencapai apa yang diinginkan, yaitu membentuk manusia dewasa yang mukmin, muslim dan kamil.  

b. Pendidik dalam Pendidikan Islam
1) Pengertian Pendidik dalam Pendidikan Islam
Menurut Suryadibrata, pendidik adalah orang dewas yang bertanggung jawab memberi pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohani agar mencapai tingkat kedewasaan yang belum mampu berdiri sendiri untuk mencapai tugasnya sebagai hamba dan kholifatullah dan mampu sebagai makhluk sosial dan individual yang mandiri (Suryabrata, 1983 : 26).
Menurut Ahmad Tafsir, definisi pendidik adalah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak. Jadi di sini pendapat yang dikemukakan oleh Ahmad Tafsir masih bersifat umum, karena upaya yang dilakukan oleh pendidik dalam pengembangan potensi anak belum mengarah dengan jelas, yaitu akan dibawa kemana anak itu, walaupun pendidik dalam melaksanakan proses pendidikan Islam menyesuaikan dengan rumusan-rumusan tujuan khusus.
Dalam konteks pendidikan Islam, "pendidik" sering disebut murabbi, mu'allim, mu'addib, yang ketiganya mempunyai penggunaan tersendiri menurut peristilahan yang dipakai dalam "pendidikan konteks Islam".
Pendidik pertama dan yang utama adalah orang tua sendiri yang bertanggung jawab penuh atas kemajuan perkembangan anak kandungnya, karena sukses anaknya merupakan sukses orang tua juga. Dan tanggung jawab itu disebabkan sekurang-kurangnya oleh dua hal. Pertama, karena kodrat, yaitu karena orang tua ditakdirkan menjadi orang tua anaknya, karena itu ia ditakdirkan pula bertanggung jawab mendidik anaknya. Kedua, karena orang tua berkepentingan terhadap kemajuan perkembang-an anaknya. Firman Allah dalam surat al-Tahrim ayat 6 :
قُوْآ اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا (التحريم : 6)
Artinya : "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (Q.S. al-Tahrim : 6).
Dari pengertian di atas menunjukkan bahwa pendidik merupakan orang yang melakukan kegiatan dalam pengembangan potensi-potensi anak didik melalui pemberian pengetahuan, pendidikan, pengalaman, keterampilan dan sebagainya.
Untuk mencapai kedewasaan secara mandiri dan dapat melakukan aktivitas yang tercermin dalam pola pikir, dalam melaksanakan fungsinya sebagai khalifatullah dan siapa saja yang melakukan tugas pendidik tidak dibatasi oleh apapun, baik itu waktu maupun tempat, di mana saja berada, seperti halnya di sekolah diajar oleh guru, di pondok yang mendidik adalah seorang kyai dan di rumah sebagai pendidik adalah orang tua (Nata, 1997 : 62).
Oleh karena itu seorang pendidik (guru) mempunyai kedudukan yang tinggi sebagaimana yang dilukiskan dalam hadits Nabi, bahwa "Tinta seorang ilmuan (ulama) lebih berharga ketimbang darah para syuhada". Bahkan Islam menempatkan seorang pendidik setinggi dengan derajat seorang Rasul. Syauqi bersya'ir :
قُمْ لِلْمُعَلِّمِ وَفُهْ التَّخَيُّلَ # كَادَ الْمُعَلِّمُ اَنْ يَكُوْنَ رَسُوْلاً
Artinya : "Berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang Rasul". (al-Abrasi, 1970 : 136).
2) Tugas Pendidik dalam Pendidikan Islam
Sebagaimana Islam memandang kedudukan seorang pendidik lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya, bahkan pendidik kedudukannya setingkat dengan derajat seorang Rasul dalam menjalankan tugasnya. Maka tugas seorang pendidik sangat luas. Mendidik itu dilakukan dalam bentuk mengajar, menguji, memotivasi dan sebagainya.
Hasan Langgulung juga berpendapat bahwa pendidik tidak hanya bertugas sebagai pengajar saja, melainkan juga sebagai motivator dan fasilitator proses belajar mengajar yaitu realiasi dan aktualiasi sifat-sifat ilahi manusia dengan cara aktualisasi potensi-potensi manusia untuk mengimbangi kelemahan (Langgulung, 1988 : 86).
Sedangkan menurut al-Ghazali, tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, mensucikan serta membawa hati manusia untuk bertaqarrub kepada Allah SWT (Muhaimin dan Mujib, 1993 : 169).
Dalam proses belajar mengajar seorang pendidik bertugas sebagai pengajar sebagaiman yang sudah tertulis di atas, maka seorang pendidik juga berfungsi sebagai :
1. Pengajar, bertugas sebagai penyalur ilmu pengetahuan yang dikuasainya kepada anak didik.
2. Pemimpin, sebagai pengorganiasian ide-ide yang perlu dikembangkan di kalangan anak didiknya dengan sistem kepemimpinan yang dapat menggerakkan gairah, minat serta semangat belajar melalui cara apapun yang sesuai dan efektif.
3. Pembimbing, guru harus memfungsikan dirinya sebagai penunjuk jalan yang benar dalam pertumbuhan dan perkembangan yang tepat bagi anak didik (Arifin, 1993 : 163-164).
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa tugas pendidik sangat mulia dibandingkan dengan lainnya, karena disamping mengajar juga berusaha mengembangkan potensi anak didik menuju tercapainya perkembangan maksimal yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam untuk memperoleh kemampuan melaksanakan tugas secara maksimal. Menurut al-Ghazali, seorang pendidik sekurang-kurangnya harus mempunyai syarat-syarat kepribadian, diantaranya :
1. Sabar menerima masalah-masalah yang ditanyakan murid, harus diterima dengan baik.
2. Senantiasa bersifat kasih dan tidak pilih kasih.
3. Tidak takabbur, kecuali terhadap orang yang dhalim, dengan maksud mencegah dari tindakannya.
4. Menanam sifat bersahabat di dalam hatinya terhadap semua murid-muridnya.
5. Mendidik dan membimbing murid yang bodoh dengan cara yang sebaik-baiknya.
Dari persyaratan di atas, dapat dikemukakan bahwa persyaratan bagi seorang pendidik meliputi :
1. Tabi'at dan perilaku pendidik
2. Minat dan perhatian terhadap proses belajar mengajar
3. Kecakapan dan keterampilan mengajar
4. Sikap ilmiah dan cinta terhadap kebenaran (Zainuddin, 1991 : 57) 

c. Anak Didik dalam Pendidikan Islam
Definisi anak didik dalam pendidikan Islam ialah anak yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikologi untuk mencapai tujuan pendidikannya melalui lembaga pendidikan. Dari definisi tersebut memberikan arti bahwa anak didik merupakan anak yang belum dewasa yang memerlukan orang lain untuk menjadi dewasa (Muhaimin dan Mujib, 1993 : 177).
Dalam hal ini tugas pendidik adalah membawa anak yang semula serba menggantungkan dirinya pada orang lain dan bertanggung jawab terhadap orang lain secara individual, sosial maupun secara susila.
Berdasarkan pengertian di atas, maka anak didik dilihat dari segi kegiatannya adalah makhluk yang sedang tumbuh dan berkembang menuju fitrahnya masing-masing (Arifin, 1991 : 144). Sebagaimana firman Allah Swt surat al-Rum : 30, yang berbunyi :
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا فِطْرَةَ اللهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ اَكْثَرَ النَّاس لاَ يَعْلَمُوْنَ (الروم : 30)
Artinya : "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) (tetapkanlah) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (Q.S. al-Rum : 30)
Dari ayat di atas, jelaslah bahwa pada dasarnya anak itu telah membawa fitrah beragama kemudian bergantung kepada para pendidiknya dalam mengembangkan fitrah itu sendiri sesuai dengan usia anak dalam perkembangannya. Dengan demikian agar pendidikan Islam berhasil seharusnya menempuh jalan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan anak didik.
Dalam proses belajar mengajar, seorang pendidik harus sedapat mungkin memahami hakekat anak didiknya sebagai objek pendidikan. Adapun yang perlu dipahami dalam masalah anak didik adalah :
1. Anak didik bukan miniatur orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri, sehingga metode belajar mengajar tidak boleh disamakan dengan dengan orang dewasa.
2. Anak didik mengikuti periode-periode perkembangan tertentu dan mempunyai pola perkembangan serta tempo dan iramanya. Implikasi dalam pendidikan adalah bagaimana proses pendidikan itu dapat disesuaikan dengan pola tempo serta irama perkembangan anak.
3. Anak didik merupakan objek pendidik yang aktif dan kreatif serta produktif. Setiap anak didik mempunyai aktivitas sendiri dan kreativitas sendiri, sehingga dalam pendidikan tidak memandang anak sebagai objek pasif yang biasanya yang hanya menerima dan mendengarkan saja (Muhaimin dan Mujib, 1993 : 178, 181).
Pandangan di atas merupakan acuan bagi para pendidik dalam membantu anak didik dalam mengembangkan fitrahnya baik jasmani maupun rohani, dalam taraf mencapai kemampuan yang optimal mungkin menuju taqarrub kepada Allah. Maka dari itu pendidik harus memahami hakekat anak sebagai objek, baik di rumah, sekolah dan lingkungan masyarakat. 

d. Metodologi Pendidikan Islam
Pengertian metode dari segi bahasa adalah berasal dari dua perkataan, yaitu meta dan bodos. Meta berarti melalui dan bodos berarti jalan atau cara. Dengan demikian metode berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Selain itu ada juga yang mengatakan bahwa metode adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin tersebut (Nata, 1997 : 91).
Yang dimaksud metode di sini ialah metode pendidikan. Metode pendidikan adalah semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik. Kata metode di sini diartikan secara luas. Karena mengajar adalah salah satu bentuk upaya mendidik (Tafsir, 1994 : 131).
Al-Syaibani merumuskan pengertian metode mengajar bermakna segala segi kegiatan yang terarah dan dikerjakan oleh guru dalam rangka mentransformasikan mata pelajaran yang diajarkan kepada anak didiknya, dengan mengetahui ciri-ciri perkembangan anak didiknya untuk mencapai proses belajar yang diinginkan dan perubahan yang dikehendaki pada tingkah laku mereka. Selanjutnya menolong mereka memperoleh pengetahuan, kebiasaan, sikap, minat dan nilai-nilai yang diinginkan (al-Syaibani, 1979 : 553).
Sedangkan dalam penggunaan metode pendidikan Islam, seseorang perlu memahami hakekat metode dan relevansinya dengan tujuan utama terbentuknya pribadi yang beriman dan senantiasa siap sedia mengabdi kepada-Nya.
Tugas utama metode pendidikan Islam adalah mengadakan hubungan antar pendidikan yang terealisasi melalui penyampaian keterangan dan pengetahuan agar siswa mengetahui, menghayati dan meyakini materi yang diberikan serta meningkatkan keterampilan olah piker. Selain itu juga bertugas membuat perubahan dalam sikap dan minat serta penemuan dan norma yang berhubungan dengan pendidikan dan perubahan dalam pribadi serta bagaimana faktor-faktor tersebut diharapkan menjadi pendorong ke arah perbuatan nyata.
Dari definisi di atas penulis sintesiskan bahwa metode merupakan cara atau jalan, alat untuk menuju sesuatu yang dicita-citakan, baik itu pendidik maupun terdidik. Karena dengan adanya metode, proses belajar mengajar akan lebih mudah untuk mengarah pada tujuan yang diinginkan, terutama dalam tujuan pendidikan Islam. Adapun fungsi pendidikan dalam Islam adalah mengarahkan keberhasilan belajar, memberi kemudahan pada anak didik untuk belajar berdasarkan minat serta mendorong usaha kerjasama dalam kegiatan belajar mengajar antara pendidik dan anak didik melalui proses hubungan yang sesuai atau serasi antara pendidik dan anak didik yang seiring dengan pendidikan Islam.
Adapun metode yang dipergunakan dalam pendidikan Islam itu cukup banyak sekali, akan tetapi metode dalam pendidikan Islam yang paling menonjol dan penting menurut Abdurrahman al-Nahlawi, yaitu :
1. Metode hiwar (percakapan)
2. Mendidik dengan kisah
3. Mendidik dengan amtsal (perumpamaan)
4. Mendidik dengan memberikan keteladanan (uswatun hasanah)
5. Mendidik dengan pembiasaan diri dan pengalaman
6. Mendidik dengan mengambil pelajaran dan peringatan (mau'idla)
7. Mendidik dengan targhib (membuat senang) dan tarhib (membuat takut) (Al-Nahlawi, 1992 : 283 – 284)

0 komentar:

Posting Komentar

 

Teknologi

Resources