Selasa, 27 Maret 2012

Pendekatan, Strategi dan Metode Pembelajaran


PENDEKATAN, STRATEGI,
DAN METODE PEMBELAJARAN


A. Fauzan Rofiq, M.Pd.I


BAB I
PENDAHULUAN

Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran. Jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana akan dikemukakan, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembela-jaran tersebut secara tersendiri dan khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
Namun celakanya, dalam dunia pendidikan terdapat banyak istilah, baik yang bersifat filosofis, konseptual, maupun praktis. Terkadang para guru atau calon guru tidak memahami perbedaan masing-masing istilah tersebut, atau secara sengaja mengaburkan batasan-batasan istilah tersebut karena ketidak-tahuannya, sehingga mereka memperoleh pemahaman yang rancu terhadap istilah tersebut. Akibatnya, mereka secara tanpa sadar juga mengimplementasikan istilah tersebut dalam pembelajaran meskipun pada hakikatnya tidak tepat.
Terkadang metode dipahami sebagai pendekatan, atau strategi dipahami sebagai teknik, atau sebaliknya. Padahal sintaks (urutan) makin mengkerucut tentang istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut: worldview-paradigma-pendekatan-strategi-metode-teknik-taktik.
Oleh karena itu, makalah ini berupaya meluruskan dan memposisikan istilah-istilah yang ada dalam pembelajaran itu sebagaimana mestinya. Namun, karena banyaknya perbedaan pemahaman, maka pembahasan dalam makalah ini lebih banyak mengacu pada ketentuan yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Nasional.

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Pendekatan, Strategi, dan Metode Pembelajaran
Sebelum membahas tentang pengertian pendekatan, strategi, dan metode (pembelajaran), maka hal pertama yang harus diketengahkan adalah pengertian pembelajaran itu sendiri. Hal ini penting dalam rangka menyama-kan persepsi tentang makna pembelajaran yang akan digandengkan dengan ketiga term tersebut. Dalam mendefinisikan pembelajaran ini, penulis lebih menyepakati apa yang dirumuskan oleh Gagne dan Briggs (1979), bahwa pembelajaran (instruction) adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang dan disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.[1]
Selanjutnya, penulis akan menyajikan secara komprehensif tentang pengertian pendekatan, strategi, dan metode pembelajaran.
  1. Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran menggambarkan suatu model yang digunakan untuk mengatur pencapaian tujuan kurikulum dan memberi petunjuk kepada guru mengenai langkah-langkah pencapaian tujuan itu.[2]
Pendekatan pembelajaran dapat pula diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.[3]
Bagi penulis, pendekatan (approach) lebih merupakan kerangka filosofis yang menjadi dasar pijak cara yang ditempuh seseorang untuk mencapai tujuan seperti pendekatan humanis, liberal, teologis, quantum, dan lainnya. Pendekatan ini terkadang disebut dengan teori. Setiap dasar filosofis yang dipakai dalam pendidikan akan berkonsekuensi pada kerangka metodologis dan teknik yang berbeda pula meskipun secara kasat mata terlihat sama.
Berdasarkan pandangan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran merupakan titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran yang sifatnya masih sangat umum dan filosofis, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu guna dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
  1. Pengertian Strategi Pembelajaran
Kata “strategi” berasal dari bahasa Inggris, yaitu kata strategy yang berarti “siasat atau taktik”.[4] Untuk lebih memahami apa itu strategi pembelajaran, berikut pendapat para ahli tentang istilah tersebut:
Zakky Fuad mengatakan, strategi pembelajaran adalah suatu pola umum perbuatan guru di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar.[5] Menurut Ahmad Rohani, strategi pembelajaran (pengajaran) adalah pola umum tindakan guru-murid dalam manifestasi pengajaran.[6] Senada dengan pendapat itu, Syaiful Bahri dan Aswan Zain berpendapat bahwa strategi pembelajaran adalah merupakan pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.[7]
Selain itu, J. J. Hasibuan dan Moedjiono berpendapat bahwa strategi pembelajaran merupakan pola umum untuk mewujudkan guru-murid di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar.[8] Menurut Oemar Hamalik, strategi pembelajaran merupakan pola umum mewujudkan proses belajar mengajar dan guru maupun anak didik terlibat di dalamnya secara aktif.[9] Nana Sudjana dalam Ahmad Rohani menyatakan, bahwasanya strategi pembelajaran (pengajaran) merupakan taktik yang digunakan pendidik dalam melaksanakan proses belajar mengajar (pengajaran), agar dapat mempengaruhi anak didik mencapai tujuan pembelajaran (taktik) secara efektif dan efisien.[10]
Sementara itu, Kemp dalam Wina Senjaya mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. J. R David juga dalam Wina Sanjaya menyatakan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.[11]
Dari beberapa pendapat di atas, penulis dapat memahami bahwasannya strategi pembelajaran merupakan pola-pola tindakan yang digunakan pendidik pada berbagai ragam event pengajaran dalam rangka mewujudkan tercapainya tujuan instruksional (tujuan pengajaran yang telah ditentukan). Dengan kata lain konsep strategi pembelajaran dalam pandangan (pendapat) para ahli tersebut di atas mengandung pengertian yakni berbagai kemungkinan terhadap apa yang akan direncanakan dan dilaksanakan seorang pendidik pada proses kegiatan pengajaran tertentu untuk mencapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
  1. Pengertian Metode Pembelajaran
Metode (Yunani: methodos, Inggris: method, Arab: thariqah) secara bahasa berarti cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud, atau cara mengajar dan lain sebagainya.[12] Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan.[13] Dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep secara sistematis.[14]
Metode pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan pada murid untuk menerima, mengelola, dan menyimpan/menguasai bahan pelajaran.[15] Ada juga yang mengatakan bahwa metode pembelajaran adalah cara guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu.[16]
Dari beberapa pendapat itu, penulis dapat menyimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun dapat dicapai secara optimal.

B.  Perbedaan Pendekatan, Strategi, dan Metode Pembelajaran
Di atas sudah dijelaskan mengenai pengertian strategi, pendekatan, dan metode pembelajaran. Selanjutnya, di manakah perbedaan di antara ketiga term tersebut? Berikut batas-batas perbedaannya.
Akhmad Sudradjat[17] menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran merupakan titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Sanjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran menekankan pada cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Selanjutnya metode pembelajaran itu masih dijabarkan lagi ke dalam teknik dan taktik pembelajaran. Di sini, teknik pembelajaran lebih menekan-kan pada cara guru dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya personal. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekaligus juga seni (kiat).
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh, maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik pembelajaran.
Sebagai ilustrasi, suatu ketika banyak remaja putri menggunakan model celana Jablai yang terinspirasi dari lagu dangdut dan film Jablai. Sebagai sebuah model, celana jablai berbeda dengan celana model lain meskipun dibuat berdasarkan pendekatan, metode, dan teknik yang sama. Perbedaan tersebut terletak pada sajian, bentuk, warna, dan desainnya. Dalam pembelajaran, guru dapat berkreasi dengan berbagai model pembelajaran yang khas secara menarik, menyenangkan, dan bermanfaat bagi siswa. Model guru tersebut dapat pula berbeda dengan model guru di sekolah lain meskipun dalam persepsi pendekatan dan metode yang sama.[18]
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan model pembelajaran terletak pada hal-hal berikut:
TABEL 1
KOMPARABILITAS ANTARA PENDEKATAN, STRATEGI, METODE,
TEKNIK, TAKTIK, DAN MODEL PEMBELAJARAN
No
Term Pembelajaran
Sisi Komparabilitas
1
Pendekatan pembelajaran
Lebih merupakan titik tolak atau sudut pandang guru terhadap proses pembelajaran yang sifatnya masih sangat umum; di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
2
Strategi pembelajaran
Lebih berifat konseptual untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran.
3
Metode pembelajaran
Menekankan pada cara yang digunakan guru untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
4
Teknik pembelajaran
Lebih mengarah pada implementasi metode secara spesifik dan teknis.
5
Taktik pembelajaran
Lebih mengarah pada gaya mengajar seorang guru  yang bersifat personal. Di sini bertemu antara ilmu (mengajar) dan seni.
6
Model pembelajaran
Bingkai dari penerapan suatu pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik pembelajaran.

C.  Macam-macam Pendekatan, Strategi, dan Metode Pembelajaran
Untuk memberikan gambaran konkret tentang strategi, pendekatan, dan metode pembelajaran, berikut akan dijabarkan macam-macam atau jenis dari masing-masing term tersebut.
  1. Macam-macam Pendekatan Pembelajaran
Ada banyak pendekatan pembelajaran yang digunakan di dunia pendidikan, terutama yang biasa digunakan di tingkat pra sekolah sampai dengan sekolah lanjutan. Namun secara umum aneka pendekatan tersebut dapat dikelompokkan pada dua kecenderungan, yaitu:
a.       Student centered/oriented approach, yakni pendekatan pembelajaran yang berpusat atau berorientasi pada siswa.
b.      Teacher centered/oriented approach, yakni pendekatan pembelajaran yang berpusat atau berorientasi pada siswa.[19]
  1. Macam-macam Strategi Pembelajaran
Pembagian strategi pembelajaran sangat tergantung pada: a) strategi pengorganisasian pembelajaran, b) strategi penyampaian pembela-jaran, dan c) strategi pengelolaan pembelajaran. Selain itu, pembagiannya juga harus mempertimbangkan hal-hal berikut: a) pertimbangan proses pengolahan pesan, b) pertimbangan pengaturan guru, c) pertimbangan jumlah siswa, d) pertimbangan interaksi guru dan siswa, dan e) pertimbangan berdasarkan taksonomi hasil belajar
Berdasarkan pertimbangan di atas, maka strategi pembelajaran dapat dibagi menjadi dua, yaitu: Exposition-discovery learning dan Group-individual learning.[20] Selain itu, ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan menjadi: a) strategi pembelajaran induktif, b) strategi pembelajaran deduktif.
a.       Exposition-Discovery Learning
Exposition learning adalah strategi guru dengan menyajikan bahan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematik dan lengkap, sedangkan siswa menyimak dan mencernanya secara teratur dan tertib.[21] Hal yang menonjol dalam strategi pembelajaran ekspositori adalah tujuannya yang utama yaitu memindahkan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai sikap pada anak didik.
Inquiry-discovery learning adalah strategi pembelajaran yang mana siswa lebih aktif sedangkan guru menyiapkan bahan pelajaran tidak dalam bentuk final. Siswa mencari dan menemukan sendiri dengan menggunakan teknik pemecahan masalah.[22]
b.      Group-Individual Learning
Group learning merupakan strategi pembelajaran yang menitikberatkan peran setiap anak didik dalam belajar bekerjasama (kelompok) dan bertanggung jawab dalam aktivitas pembelajaran. Pada umumnya pelaksanaannya diwujudkan dalam bentuk diskusi, simulasi (bentuk pembelajaran dengan berlatih memerankan peran tertentu secara aktif dan realistis).[23]
Individual learning adalah strategi pembelajaran yang diorientasikan agar anak didik melakukan suatu kegiatan belajar secara mandiri (perseorangan).[24] Pendidik berperan sebagai fasilitator, pem-bimbing dan pengevaluasi, sedangkan anak didik berperan sebagai subjek yang belajar secara mandiri berdasarkan kemampuan sendiri.
TABEL 2
PEMBAGIAN PEMBELAJARAN KELOMPOK
DAN INDIVIDUAL
Kelompok
Individual
Besar
Kecil
Kuliah
Seminar
Proyek
Demonstrasi
Workshop
Penugasan/resitasi
Pengajaran berkelompok
Permainan/kuis
Tutorial
Diskusi
Brainstorming
Pembljrn jarak jauh
Debat
Buzz group
Percakapan 1 lawan 1
Pertanyaan-jawaban
Perjalanan ke lapangan

Video
Permainan peran


Ice breaker


Simulasi


Studi kasus

  1. Macam-macam Metode Pembelajaran
Macam-macam metode pembelajaran sangat banyak, beragam dan terus berkembang. Namun di sini, penulis akan menyajikan macam-macam metode pembelajaran tersebut berdasarkan pedoman pembelajaran yang diterbitkan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan tahun 2008,[25] yaitu sebagai berikut:
a.       Metode Ceramah, yaitu penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini senantiasa bagus bila pengunaannya betul-betul disiapkan dengan baik, didukung alat dan media serta memperhatikan batas-batas kemungkinan penggunannya.
b.      Metode Demonstrasi, yaitu metode penyajian pelajaran dengan mem-peragakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan.
c.       Metode Diskusi, yaitu metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu kepu-tusan (Killen, 1998). Karena itu, diskusi bukanlah debat yang bersifat mengadu argumentasi. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman.
d.      Metode Simulasi. Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu.
e.       Metode Tugas dan Resitasi. Metode tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi lebih luas dari itu. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individu atau kelompok. Tugas dan resitasi bisa dilaksanakan di rumah, di sekolah, di perpustakaan dan tempat lainnya.
f.       Metode Tanya-jawab, yaitu metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa. Guru bertanya siswa menjawab atau siswa bertanya guru menjawab. Dalam komunikasi ini terlihat adanya hubungan timbal balik secara langsung.
g.      Metode Kerja Kelompok. Metode kerja kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok mengandung pengertian bahwa siswa dalam satu kelas dipandang sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri ataupun dibagi atas kelompok-kelompok kecil (sub-sub kelompok).
h.      Metode Problem Solving. Metode problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
i.        Metode Sistem Regu (Team Teaching), yaitu metode mengajar dua orang guru atau lebih bekerja sama mengajar sebuah kelompok siswa, jadi kelas dihadapi beberapa guru. Sistem regu banyak macamnya, sebab untuk satu regu tidak senantiasa guru secara formal saja, tetapi dapat melibatkan orang luar yang dianggap perlu sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan.
j.        Metode Latihan (Drill). Metode latihan pada umumnya digunakan untuk memeperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari. Mengingat latihan ini kurang mengembangkan bakat/inisiatif siswa untuk berpiki, maka hendaknya guru/pengajar memperhatikan tingkat kewajaran dari metode drill.
k.      Metode Karyawisata (Field-Trip). Karyawisata dalam arti metode mengajar mempunyai arti tersendiri, berbeda dengan karyawisata dalam arti umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar.
l.        Metode Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learn-ing), yaitu suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/konteks lainnya.
m.    Metode Cooperative Learning, yaitu pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur.
n.      Metode Eksperimen, yaitu suatu kegiatan pendidik dan anak didik untuk mencoba mengerjakan serta mengamati proses dan hasil suatu percobaan.
Dari sekian banyak metode tersebut, bukan tidak mungkin jika masih ada (banyak) metode yang oleh sebagain pakar dikategorikan sebagai metode pembelajaran.

D.  Pemilihan Metode Pembelajaran
Pada bagian ini akan dijelaskan bagaimana memilih strategi pembelajaran. Kadang-kadang dalam proses pembelajaran guru kaku dengan mempergunakan satu atau dua metode, dan menterjemahkan metode itu secara sempit dan menerapkan metode di kelas dengan metode yang pernah ia baca, metode pembelajaran merupakan cara untuk menyampaikan, menyajikan, member latihan, dan memberi contoh pelajaran kepada siswa, dengan demikian metode dapat di kembangkan dari pengalaman, seseorang guru yang berpengalaman dia dapat menyuguhkan materi kepada siswa, dan siswa mudah menyerapkan materi yang disampaikan oleh guru secara sempurna dengan mempergunakan metode yang dikembangkan dengan dasar pengala-mannya, metode-metode dapat dipergunakan secara variatif, dalam arti kata kita tidak boleh monoton dalam suatu metode.
Menurut Oemar Hamalik, pendidik dapat memilih satu atau beberapa strategi sekaligus secara bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, materi (bahan) yang disampaikan, motivasi anak didik, media serta kemampuan pendidik dalam menerapkannya.[26]
Selain itu, Muhammad Ali berpendapat, bahwa dalam menggunakan metode pembelajaran, harus mempertimbangkan hal-hal berikut:
  1. Kesesuaian metode dengan tujuan pengajaran
  2. Kesesuaian metode dengan materi pelajaran
  3. Kesesuaian metode dengan sumber dan fasilitas tersedia
  4. Kesesuaian metode dengan situasi-kondisi belajar mengajar
  5. Kesesuaian metode dengan kondisi siswa
  6. Kesesuaian metode dengan waktu yang tersedia.[27]
Untuk lebih jelasnya, berikut prinsip-prinsip dasar dalam memilih dan menggunakan metode pembelajaran sesuai dengan rekomendasi Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan tahun 2008: [28]
1. Tujuan Pembelajaran 
Penetapan tujuan pembelajaran merupakan syarat mutlak bagi guru dalam memilih metode yang akan digunakan di dalam menyajikan materi pengajaran. Tujuan pembelajaran merupakan sasaran yang hendak dicapai pada akhir pengajaran, serta kemampuan yang harus dimiliki siswa. Sasaran tersebut dapat terwujud dengan menggunakan metode-metode pembelajaran. Tujuan pembelajaran adalah kemampuan (kompetensi) atau keterampilan yang diharapkan dimiliki oleh siswa setelah mereka melakukan proses pembelajaran tertentu. Tujuan pembelajaran dapat menentukan suatu strategi yang harus digunakan guru. Misalnya, seorang guru Olahraga dan Kesehatan menetapkan tujuan pembelajaran agar siswa dapat mendemontrasikan cara menendang bola dengan baik dan benar. Dalam hal ini metode yang dapat membantu siswa-siswa mencapai tujuan adalah metode ceramah, guru memberi instruksi, petunjuk, aba-aba dan dilaksanakan di lapangan, kemudian metode demonstrasi, siswa-siswa mendemonstrasikan cara menendang bola dengan baik dan benar, selanjutnya dapat digunakan metode pembagian tugas, siswa-siswa kita tugasi, bagaimana menjadi keeper, kapten, gelandang, dan apa tugas mereka, dan bagaimana mereka dapat bekerjasama dan menendang bola. Dalam contoh ini, terdapat kemampuan siswa pada tingkat kognitif dan psikomotorik. Demikian juga diaplikasikan kemampuan afektif, tentang bagaimana kemampuan mereka dalam bekerjasama dalam bermain bola dari metode pemberian tugas yang diberikan guru kepada setiap individu.
Dalam silabus telah dirumuskan indikator hasil belajar siswa setelah mereka mengikuti proses pembelajaran. Terdapat empat komponen pokok dalam merumuskan indikator hasil belajar yaitu:
a.       Penentuan subyek belajar untuk menunjukkan sasaran relajar.
b.      Kemampuan atau kompetensi yang dapat diukur atau yang dapat ditampilkan melalui peformance siswa.
c.       Keadaan dan situasi dimana siswa dapat mendemonstrasikan perfor-mancenya
d.      Standar kualitas dan kuantitas hasil belajar.
Berdasarkan indikator dalam penentuan tujuan pembelajaran maka dapat dirumuskan tujuan pembelajaran mengandung unsure: audience (peserta didik), behavior (perilaku yang harus dimiliki), condition (kondisi dan situasi) dan degree (kualitas dan kuantĂ­tas hasil belajar). 
2. Aktivitas dan Pengetahuan Awal Siswa
Belajar merupakan berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas siswa. Aktivitas tidak dimaksudkan hanya terbatas pada aktifitas fisik saja akan tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat psikis atau aktivitas mental. 
Pada awal atau sebelum guru masuk ke kelas memberi materi pengajaran kepada siswa, ada tugas guru yang tidak boleh dilupakan adalah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa. Sewaktu memberi materi pengajaran kelak guru tidak kecewa dengan hasil yang dicapai siswa, untuk mendapat pengetahuan awal siswa guru dapat melakukan pretes tertulis, tanya jawab di awal pelajaran. Dengan mengetahui pengetahuan awal siswa, guru dapat menyusun strategi memilih metode pembelajaran yang tepat pada siswa-siswa.
Apa metode yang akan kita pergunakan? Sangat tergantung juga pada pengetahuan awal siswa, guru telah mengidentifikasi pengetahuan awal. Pengetahuan awal dapat berasal dari pokok bahasan yang akan kita ajarkan, jika siswa tidak memiliki prinsip, konsep, dan fakta atau memiliki pengalaman, maka kemungkinan besar mereka belum dapat dipergunakan metode yang bersifat belajar mandiri, hanya metode yang dapat diterapkan ceramah, demonstrasi, penampilan, latihan dengan teman, sumbang saran, pratikum, bermain peran dan lain-lain. Sebaliknya jika siswa telah memahami prinsip, konsep, dan fakta maka guru dapat mempergunakan metode diskusi, studi mandiri, studi kasus, dan metode insiden, sifat metode ini lebih banyak analisis, dan memecah masalah.
3. Integritas Bidang Studi/Pokok Bahasan 
Mengajar merupakan usaha mengembangkan seluruh pribadi siswa. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, tetapi juga meliputi pengembangan aspek afektif dan aspek psikomotor. Karena itu strategi pembelajaran harus dapat mengembangkan seluruh aspek kepribadian secara terintegritas. Pada sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah menengah, program studi diatur dalam tiga kelompok. Pertama, program pendidikan umum. Kedua, program pendidikan akademik. Ketiga, Program Pendidikan Agama, PKn, Penjas dan Kesenian dikelompokkan ke dalam program pendidikan umum. Program pendidikan akademik bidang studinya berkaitan dengan keterampilan. Karena itu metode yang digunakan lebih berorientasi pada masing-masing ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik) yang terdapat dalam pokok bahasan. Umpamanya ranah psikomotorik lebih dominant dalam pokok bahasan tersebut, maka metode demonstrasi yang dibutuhkan, siswa berkesempatan mendemostrasikan materi secara bergiliran di dalam kelas atau di lapangan. Dengan demikian metode yang kita pergunakan tidak terlepas dari bentuk dan muatan materi dalam pokok bahasan yang disampaikan kepada siswa.
Dalam pengelolaan pembelajaran terdapat beberapa prinsip yang harus diketahui di antaranya:
a.  Interaktif
Proses pembelajaran merupakan proses interaksi baik antara guru dan siswa, siswa dengan siswa atau antara siswa dengan lingkungannya. Melalui proses interaksi memungkinkan kemampuan siswa akan berkembang baik mental maupun intelektual. 
b. Inspiratif
Proses pembelajaran merupakan proses yang inspiratif, yang memungkinkan siswa untuk mencoba dan melakukan sesuatu. Biarkan siswa berbuat dan berpikir sesuai dengan inspirasinya sndiri, sebab pengetahuan pada dasarnya bersifat subjektif yang bisa dimaknai oleh setiap subjek belajar.
c. Menyenangkan
Proses pembelajaran merupakan proses yang menyenangkan.  Proses pembelajaran menyenangkan dapat dilakukan dengan menata ruangan yang apik dan menarik dan pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi, yakni dengan menggunakan pola dan model pembelajaran, media dan sumber-sumber belajar yang relevan.
d. Menantang
Proses pembelajaran merupakan proses yang menantang siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir, yakni merangsang kerja otak secara maksimal. Kemampuan itu dapat ditumbuhkan dengan cara mengembangkan rasa ingin tahu siswa melalui kegiatan mencobaoba, berpikir intuitif atau bereksplorasi.
e. Motivasi
Motivasi merupakan aspek yang sangat penting untuk membelajarkan siswa. Motivasi dapat diartikan sebagai dorongan yang memungkinkan siswa untuk bertindak dan melakukan sesuatu. Seorang guru harus dapat menunjukkan pentingnya pengalaman dan materi belajar bagi kehidupan siswa, dengan demikian siswa akan belajar bukan hanya sekadar untuk memperoleh nilai atau pujian akan tetapi didorong oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhannya. 
4. Alokasi Waktu dan Sarana Penunjang 
Waktu yang tersedia dalam pemberian materi pelajaran satu jam pelajaran 45 menit, maka metode yang dipergunakan telah dirancang sebelumnya, termasuk di dalamnya perangkat penunjang pembelajaran, perangkat pembelajaran itu dapat dipergunakan oleh guru secara berulang-ulang, seperti transparan, chart, video pembelajaran, film, dan sebagainya.
Metode pembelajaran disesuaikan dengan materi, seperti Bidang Studi Biologi, metode yang akan diterapkan adalah metode praktikum, bukan berarti metode lain tidak kita pergunakan, metode ceramah sangat perlu yang waktunya dialokasi sekian menit untuk memberi petunjuk, aba-aba, dan arahan. Kemudian memungkinkan mempergunakan metode diskusi, karena dari hasil praktikum siswa memerlukan diskusi kelompok untuk memecah masalah/problem yang mereka hadapi.
5. Jumlah Siswa
Idealnya metode yang kita terapkan di dalam kelas perlu mempertimbangkan jumlah siswa yang hadir, rasio guru dan siswa agar proses belajar mengajar efektif, ukuran kelas menentukan keberhasilan terutama pengelolaan kelas dan penyampaian materi.
Para ahli pendidikan berpendapat bahwa mutu pengajaran akan tercapai apabila mengurangi besarnya kelas, sebaliknya pengelola pendidikan mengatakan bahwa kelas yang kecil-kecil cenderung tingginya biaya pendidikan dan latihan. Kedua pendapat ini bertentangan, manakala kita dihadapkan pada mutu, maka kita membutuhkan biaya yang sangat besar, bila pendidikan mempertimbangkan biaya sering mutu pendidikan terabaikan, apalagi saat ini kondisi masyarakat Indonesia mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Ukuran kelas besar dan jumlah siswa yang banyak, metode ceramah lebih efektif, akan tetapi yang perlu kita ingat metode ceramah memiliki banyak kelemahan dibandingkan metode lainnya, terutama dalam pengukuran keberhasilan siswa. Di samping metode ceramah guru dapat melaksanakan tanya jawab, dan diskusi. Kelas yang kecil dapat diterapkan metode tutorial karena pemberian umpan balik dapat cepat dilakukan, dan perhatian terhadap kebutuhan individual lebih dapat dipenuhi.
6. Pengalaman dan Kewibawaan Pengajar
Guru yang baik adalah guru yang berpengalaman, pribahasa mengatakan Pengalaman adalah guru yang baik, hal ini diakui di lembaga pendidikan, kriteria guru berpengalaman, dia telah mengajar selama lebih kurang 10 tahun, maka sekarang bagi calon kepala sekolah boleh mengajukan permohonan menjadi kepala sekolah bila telah mengajar minimal 5 tahun. Dengan demikian guru harus memahami seluk-beluk persekolahan. Strata pendidikan bukan menjadi jaminan utama dalam keberhasilan belajar akan tetapi pengalaman yang menentukan, umpamanya guru peka terhadap masalah, memecahkan  masalah, memilih metode yang tepat, merumuskan tujuan instruksional, memotivasi siswa, mengelola siswa, mendapat umpan balik dalam proses belajar mengajar. Jabatan guru adalah jabatan profesi, membutuhkan pengalaman yang panjang sehingga kelak menjadi profesional, akan tetapi profesional guru belum terakui seperti profesional lainnya terutama dalam upah (payment), pengakuan (recognize). Sementara guru diminta memiliki pengetahuan, menambah pengetahuan (knowledge esspecialy dan skill), pelayanan (service), tanggung jawab (responsibility) dan persatuan (unity) (Glend Langford, 1978). Di samping berpengalaman, guru harus berwibawa. Kewibawaan merupakan syarat mutlak yang bersifat abstrak bagi guru karena guru harus  berhadapan dan mengelola siswa yang berbeda latar belakang akademik dan sosial, guru merupakan sosok tokoh yang disegani bukan ditakuti oleh anak-anak didiknya. Kewibawaan ada pada orang dewasa, ia tumbuh berkembang mengikuti kedewasaan, ia perlu dijaga dan dirawat, kewibawaan mudah luntur oleh perbuatan-perbuatan yang tercela pada diri sendiri masing-masing. Jabatan guru adalah jabatan profesi terhomat, tempat orang-orang bertanya, berkonsultasi, meminta pendapat, menjadi suri tauladan dan sebagainya, iamengayomi semua lapisan masyarakat.
Berikut penerapan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan sasaran domain/ranah masing-masing.
TABEL 3
PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN SESUAI
DOMAIN MASING-MASING
METODE PEMBELAJARAN
DOMAIN/RANAH
KOGNITIF
AFEKTIF
PSIKOMOTORIK
Ceramah
J


Demonstrasi
J


Diskusi (diskusi kelas, diskusi kelompok, diskusi panel, curah pendapat)
J
J

Simulasi (role playing, sosiodrama, psikodrama, simulasi game, peer teaching)

J
J
Penugasan/resitasi


J
Tanya-jawab
J


Kerja kelompok
J


Problem solving
J


Team teaching
J


Drill

J

Field-trip
J


Contextual teaching and learning (CTL)


J
Cooperative learning
J


Eksperimen


J


BAB III
PENUTUP

Dari penelusuran tentang pendekatan, strategi, dan metode pembela-jaran sebagaimana dilakukan di atas, diperoleh suatu kesimpulan, bahwa:
1.      Pendekatan pembelajaran lebih merupakan titik tolak atau sudut pandang guru terhadap proses pembelajaran yang sifatnya masih sangat umum; di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Strategi pembelajaran lebih berifat konseptual untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Sedangkan metode pembelajaran lebih menekankan pada cara yang digunakan guru untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2.      Dalam menerapkan metode pembelajaran, sejatinya guru dapat memilih dan menggunakannya dengan mempertimbangkan hal-hal berikut: kesesuaian metode dengan tujuan pengajaran, kesesuaian metode dengan materi pelajaran, kesesuaian metode dengan sumber dan fasilitas tersedia, kesesuaian metode dengan situasi-kondisi belajar mengajar, kesesuaian metode dengan kondisi siswa, dan kesesuaian metode dengan waktu yang tersedia.
3.      Guru atau calon duru hendaknya memahami perbedaan istilah antara pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan model pembelajaran, serta mengetahui bagaimana cara memilih dan menggunakannya agar pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan dapat mencapai tujuan pembelajaran secara optimal [.]
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad. 2008. Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, Cet. XIII
Bahri, Syaiful dan Aswan Zain. 1996. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya, (Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Echol, J. M. dan Hasan Sadili. 1987. Kamus Inggris-Indonesia, Cet XV, Jakarta: Gramedia.
Fuad, Zakky. 2002. Konsep Strategi Belajar Mengajar Qur’ani, Surabaya: Nizamia, Jurnal Pendidikan IAIN Sunan Ampel.
Hamalik, Oemar. 1994. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Bandung: PT. Trigenda  Karya.
_________ 2001. Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara.
Hasibuan dan Moedjiono. 1996. Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Rosda Karya.
Poerwadarminta, W.J.S. 1999. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
Rohani, Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran, Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Sanjaya, Wina. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran; Teori dan Praktik Pengembangan KTSP, Jakarta: Kencana.
Sudradjat, Akhmad. http://www.psb-psma.org/content/blog/
Sujono, A. Dj. 1980. Pendahuluan Didaktik Metodik Umum, Bandung: Bina Karya.
Suprayekti. 2004. Interaksi Belajar Mengajar, Jakarta: Depdiknas.
Suyanto. 2008.  http://www.klubguru.com/posted/ 03 Maret 2008
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan; Suatu Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya.


[1]   Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran; Teori dan Praktik Pengembangan KTSP, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 213.
[2]   Suprayekti, Interaksi Belajar Mengajar, (Jakarta: Depdiknas, 2004), h. 18.
[3] Akhmad Sudradjat, dalam http://www.psb-psma.org/content/blog/
[4]   J. M. Echol dan Hasan Sadili, Kamus Inggris-Indonesia, Cet XV (Jakarta: Gramedia, 1987), h. 560.
[5]   Zakky Fuad, Konsep Strategi Belajar Mengajar Qur’ani, (Surabaya: Nizamia, Jurnal Pendidikan IAIN Sunan Ampel, 2002),  h. 51.
[6]   Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2004), h. 32
[7]   Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1996) h. 5.
[8]   Hasibuan dan Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Rosyda Karya, 1996), h. 5
[9]   Oemar Hamalik, Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, (Bandung: PT. Trigenda  Karya, 1994), h. 79.
[10] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, h. 34.
[11] Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran;
[12] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), h. 649.
[13] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h.
[14] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan; Suatu Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), h. 202.
[15] A. Dj. Sujono, Pendahuluan Didaktik Metodik Umum, (Bandung: Bina Karya, 1980), h. 160.
[16] Suprayekti, Interaksi Belajar Mengajar…, h. 9.
[17] Akhmad Sudradjat, dalam http://www.psb-psma.org/content/blog/
[18] Suyanto, dalam http://www.klubguru.com/posted/ 03 Maret 2008
[19] Akhmad Sudradjat, dalam http://www.psb-psma.org/content/blog/
[20] Ibid.
[21] Suprayekti, Interaksi Belajar Mengajar, h. 18-19.
[22] Ibid, h. 19-20.
[23] Oemar Hamalik, Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, h. 86.
[24] Ibid, h. 90.
[25] Departemen Pendidikan Nasional, Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya, (Jakarta: Direk-torat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 2008), h. 13-43.
[26] Oemar Hamalik, Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, h. 81.
[27] Muhammad Ali, Guru dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2008), Cet. XIII, h. 88.
[28] Departemen Pendidikan Nasional, Strategi Pembelajaran dan Pemilihannya, h. 44-50.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar