Senin, 26 Maret 2012

Problematika Pembelajaran Tematik; sebuah refleksi


PROBLEMATIKA IMPLEMENTASI
PEMBELAJARAN TEMATIK

A.    Latar Belakang Pembelajaran Tematik
                        Peserta didik pada jenjang pendidikan sekolah dasar berada pada aspek perkembangan kecerdasan IQ, EQ, dan SQ yang luar biasa. Pada saat usia tersebut, peserta didik memiliki ciri- ciri atau karakteristik yang berbeda dengan peserta didik yang berada pada jenjang pendidikan tingkat lanjutan. Beberapa karakteristik tersebut diantaranya yaitu:
Dari aspek perkembangan kognitif, peserta didik pada tingkat sekolah dasar memiliki kemampuan berpikir logis berpikir logis mengenai objek dan kejadian, dan masih terbatas pada hal- hal yang kongkrit. Mampu menguasai konservasi jumlah, seperti: anak mampu menyusun benda berdasarkan dimensi. Dapat mengklasifikasikan objek menurut beberapa tanda, dan mampu menyusunnya dalam suatu seri berdasarkan satu dimensi, seperti ukuran. Selalu ingin meneliti dan  bereksperimen. Pekerjaan yang dilakukan belum terlaksana secara sistematis.[1] Sedangkan dari aspek pikiran, ingatan dan fantasi, peserta didik pada jenjang sekolah dasar pikiran mereka berkembang secara berangsur- angsur, dan secara tenang, dipengaruhi oleh pemikiran orang lain dan memasuki dunia obyektif. Minat anak tercurah kepada hal- hal yang dinamis, bergerak.Minat tertuju pada macam- macam aktivitas.Ingatan anak sangat kuat, sehingga daya hafal anak kuat.Mampu mmengingat materi dengan jumlah yang besar. Fantasi anak cenderung suka pada cerita dan dongeng- dongeng.[2] Anak mulai dapat mengamati, melihat hubungan, memecahkan masalah yang sederhana. Mampu menguasai operesi hitungan, seperti: menjumlah, mengurangi, dan membagi. Adanya kamampuan untuk menciptakan sesuatu.[3] Dari Perkembangan Moral, anak Mulai menghargai bahwa beberapa peraturan adalah kebiasaan sosial. Anak Orientasi pada hukuman (anak mematuhi perauran kerena takut dengan adanya hukuman) dan orientasi pada hadiah (selalu mengaharapkan hadiah dan penghargaan).[4]
                                    Berangkat dari berbagai ragam karakteristik peserta didik pada jenjang sekolah dasar dan dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada sekolah dasar lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan tematik.
B.     Konsep Dasar Pembelajaran Tematik
1.    Pengertian Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.[5] Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan. Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, diantaranya:
a.    Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu.
b.    Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama.
c.    Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.
d.   Guru dapat menghemet waktu.
e.    Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa.
2.    Landasan Pembelajaran Tematik
a.    Landasan filosofis dalam pembelajaran ematik  dipengaruhi oleh beberapa aliran filsafat, yaitu:
1)        Progresivisme. Aliran ini memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah dan memperlihatkan pengalaman siswa.
2)        Konstruktivisme. Aliran kontruktivisme melihat pengalaman langsung siswa sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia.
3)        Humanisme. Aliran ini melihat peserta didik dari segi keunikan atau kekhasannya, potensinya dan motivasi yang dimiliki.
b.    Landasan Psikologis, meliputi:
1)        Psikologi perkembangan. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/ materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluaan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan.
2)        Psikologi belajar. Psikologi belajar memberikan konstribusi dalam hal bagaimana isi atau materipembelajaran tematik disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya.
c.    Landasan Yuridis, meliputi:
1)        UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakanbahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.
2)        UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan. (Bab V Pasal 1-b).
3.    Arti Penting Pembelajaran Tematik
a.         Dengan pembelajaran tematik, siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajari.
b.        Siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya.
c.         Siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan.
4.    Karakteristik Pembelajaran Tematik
a.    Pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar.
b.    Kegiatan- kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa.
c.    Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama.
d.   Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa.
e.    Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya.
f.     Mengembangkan keterampilan sosial siswa.
g.    Berpusat pada siswa.
h.    Memberikan pengalaman langsung.
i.      Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas.
j.      Menyajikan konsep dari berbgai mata pelajaran.
k.    Bersikap fleksibel
l.      Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
m.  Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.
5.         Implikasi Pembelajaran Tematik.
a.    Implikasi bagi guru.
Pembelajaran tematik memerlukan guru yang kreatif, baik dalam menyiapkan kegiatan pembelajaran juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenagkan dan utuh.
b.    Implikasi bagi siswa.
Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervareasi dan siap untuk aktif berperan serta dalam kegiatan pembelajaran.
c.    Implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media.
Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip- prinsip secara holistik dan otentik. Oleh sebab itu, perlu mengoptimalkan penggunaan sumber belajar, sarana dan prasarana serta media.
d.   Implikasi terhadap pengaturan ruangan.
Dalam pelaksanaan pembelajaran temtaik perlu melakukan pengaturan ruang agar suasana belajar menyenangkan. Ruangan perlu ditata sesuai dengan tema yang sedang dipelajari. Pembelajaran dapat dilakukan di luar kelas maupun dalam kelas.
6.         Tahap Persiapan Pelaksanaan Pembelajaran Tematik
a.    Pemetaan Kompetensi Dasar
1)        Penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam Indikator.
a)        Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik
b)        Indikator dikembangkan dengan karakteristik mata pelajaran
c)        Indikator dirumuskan dalam kata kerja yang terukur atau operasional
2)        Menentukan tema
a)        Tema ditentukan dengan cara mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing- masing mata pelajaran, dan dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.
b)        Tema ditentukan dengan memperhatikan prinsip: Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa, dari yang termuda menuju sulit, dari yang sederhana menuju kompleks, dari yang kongkret menuju yang abstrak, tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri siswa.
3)        Identifikasi dan analisis Standar Kompetensi, Kompetensi dasar dan Indikator
b.        Menetapkan jaringan tema
Jaringan tema ditetapkan dengan cara menghubungkan kompetensi dasar dan indikator dengan tema pemersatu.
c.         Menyusun silabus
Silabus disusun berdasarkan hasil pada tahap- tahap sebelumnya. Komponen silabus terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar, alat/ sumber dan penilaian.
d.        Menyusun rencana pembelajaran.
Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi:
1)        Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas, semester dan jam pertemuan yang diperlukan dalam pembelajaran)
2)        Kompetensi dasar dan indikator yang akan dicapai
3)        Materi pokok beserta uraian yang perlu dipelajari siswa
4)        Strategi pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara kongkret yang harus dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar, indikator, kegiatan ini tertuang dalam kegiatan pembukaan, inti dan penutup).
7.    Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Tematik
       Tahap pelaksanaan pembelajaran tematik dilakukan melalui tiga tahapan kegiatan:
a.       Kegiatan Pendahuluan
      Kegiatan ini dilakukan untuk menciptakan suasana awal pembelajaran untuk mendorong siswa menfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Pada tahapan ini bisa dilakukan apersepsi maupun pre tes.
b.      Kegiatan Inti
      Kegiatan inti difokuskan pada kegiatan- kegiatan yang bertujuan untuk pengembangan kemampuan berpikir. Penyajian bahan pelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai strategi atau metode yang bervariasi dan dapat dilakukan secara klasikal maupun perorangan
c.       Kegiatan Penutup
      Dalam kegiatan penutup, aktivitas yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan atau mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan.
8.    Penilaian dalam Pembelajaran Tematik
                        Penilaian dalam pembelajaran tematik adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai peserta didik melalui kegiatan pembelajaran.
a.       Ttujuan penilaian dalam pembelajaran tematik yaitu:
1)   Mengetahui percapaian indikator yang telah ditetapkan
2)   Memperoleh umpan balik bagi guru untuk mengetahui hambatan yang terjadi dalam pembelajaran maupun efektivitas pmbelajaran.
3)   Memperoleh gambaran yang jelas tentang perkembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa.
4)   Sebagaia acuan dalam menentukan rencana tindak lanjut (remadial, pengayaan, dan pemantapan).
b.      Prinsip penilaian dalam pembelajaran tematik
1)   Penilaian tidak ditekankan secara tertulis
2)   Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator dari masing- masing kompetensi dasar dan hasil belajar dari mata pelajaran
3)   Penialaian dilakukan secara terus menerus dan selama proses belajar mengajar berlangsung
4)   Penilaian dilakukan untuk mengkaji ketercapaian kompetensi dasar dan indikator pada tiap mata pelajaranyang terdapat pada tema tersebut.
Alat penilaian berupa tes dan non tes. Tes mencakup: tertulias, lisan, atau perbuatan, dan portofolio.


[1]Rital L. Atkinson, Richard  C. Atkinson, Introduction to Psychologi, (Jakarta : Erlangga, 1997), 101- 102. Cet. Ke- 8 jilid 1Terjmh, Nurdjannah Taufiq, Rukmini Barhana ; Rital L. Atkinson, Richard C. Atkinson, Edward E. Smith, Darly J. Bem, Introduction to Psychologi, (Batam : Interaksara, ), 153-156, Cet ke-11 jilid 1. Terjmh. Widjaja Kusumma.
[2] Kartini Kartono, Psikologi Anak ( Psikologi Perkembangan) (Bandung: Mandar Maju, 1995), 138.
[3] Nana Syaodih Sukamadinata, Landasan Psikologi Proses Pandidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), 117- 118.
[4] Kartini Kartono, Psikologi Anak ( Psikologi Perkembangan) (Bandung: Mandar Maju, 1995), 138.
[5]Tim Pustaka Yustisia. Panduan Lengkap KTSP. Yogyakarta: Pustaka Yusisia, 2008), 253.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar